
Tasawuf sebagai Jawaban atas Kecemasan Generasi Digital, UIN Antasari Gelar Seminar Nasional dan Teken Kerja Sama dengan STAI Idrisiyah
BANJARMASIN – Di tengah meningkatnya kecemasan pada Generasi Z dan budaya digital yang menuntut manusia terus terhubung, tasawuf ditawarkan sebagai jalan menuju ketenangan. Gagasan itu mengemuka dalam Seminar Nasional yang digelar Pusat Kerja Sama dan Hubungan Internasional bersama Program Magister Ilmu Tasawuf UIN Antasari, Senin (28/9/2026), pukul 13.30–16.00 WITA.
Kegiatan diawali dengan penandatanganan naskah nota kesepahaman antara seluruh fakultas di lingkungan UIN Antasari dan Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Idrisiyah Tasikmalaya. Seminar kemudian menghadirkan dua pembicara: Mursyid Tarekat Idrisiyah Tasikmalaya, Syekh Akbar Muhammad Faturrahman, M.Ag., dan Guru Besar Sosiologi Agama UIN Antasari, Prof. Dr. H. Mujiburrahman, MA.
Tasawuf sebagai Ilmu tentang Jiwa
Syekh Akbar mendefinisikan tasawuf sebagai ilmu untuk mengenali kondisi jiwa yang negatif, menghiasi hati dengan sifat positif, dan mengarahkan manusia kepada tujuan Yang Satu. “Tasawuf pada hakikatnya adalah instrumen diagnosis jiwa. Kita mengidentifikasi penyakit batin yang merusak, lalu meresepkannya dengan sifat-sifat mahmudah, semata-mata agar kompas hidup kita terarah tegak pada Yang Maha Esa,” ujarnya. Definisi itu, tegasnya, menunjukkan bahwa objek tasawuf adalah jiwa.
Ia menjelaskan bahwa perintah agama tidak berhenti pada aspek lahiriah yang digarap fikih. Perintah bersabar serta larangan sombong dan riya termasuk aspek batin, dan di situlah tasawuf bekerja.
Syekh Akbar juga mengajak peserta mendekatkan tasawuf dengan tren kekinian yang bermanfaat bagi manusia masa kini. Ia menyinggung kecemasan dan gangguan bipolar pada Generasi Z yang ditandai perubahan mental drastis, dan menyatakan tasawuf dapat menjadi jalan keluarnya karena kebahagiaan dalam tradisi ini berarti ketenangan dan kedamaian. Ia merujuk Kimiya-yi Sa’adat karya Imam al-Ghazali: manusia perlu mengenali dirinya, yakni roh sebagai unsur pemberian Allah, lalu menjalankan tazkiyatun nafs dengan mengosongkan hati dari penyakit cinta dunia. “Generasi Z saat ini dihadapkan pada disrupsi mental yang masif. Pendekatan tasawuf hadir bukan sebagai dogma usang, melainkan sebagai terapi kebahagiaan sejati melalui pengosongan hati dari belenggu ekspektasi duniawi yang menjadi akar kecemasan tersebut,” katanya.
Mencari Integritas, Bukan Sekadar Ijazah
Prof. Mujiburrahman menyoroti Program Magister Ilmu Tasawuf yang telah terakreditasi unggul dan tidak pernah sepi mahasiswa, meski jumlahnya sedikit. Ia mempertanyakan nasib lulusannya jika dilihat dari kacamata neoliberal. “Jika kita meminjam kacamata pragmatisme neoliberal yang mengukur segala sesuatu dari metrik ekonomi, pertanyaan sinis yang pasti muncul adalah: mau jadi apa lulusan S2 Tasawuf ini di pasar tenaga kerja?” ucapnya.
Ia menjawabnya lewat latar belakang mahasiswa. Program ini pernah diikuti seorang anggota kepolisian yang kini menjabat kepala bagian, juga seorang tenaga penjual produk perawatan kulit merek multinasional. Menurut Mujiburrahman, keduanya mencari integritas yang bersumber dari aspek batiniah.
Ia menuturkan bahwa kelas spiritual juga digemari di Barat karena kehidupan mereka yang cenderung materialistik. Ia mengutip kuliah umum Seyyed Hossein Nasr di Ottawa, yang menyebut sains modern dibangun di atas pandangan yang menolak hal gaib dan suci sehingga merusak alam dan kebahagiaan manusia. Ia juga menyebut Michel Chodkiewicz, pakar Ibnu Arabi asal Prancis, yang menilai masyarakat Eropa haus secara spiritual dan karenanya tertarik pada tasawuf.
Beralih ke budaya digital, Mujiburrahman mendefinisikannya sebagai nilai, praktik, dan perilaku berbasis teknologi digital, dengan ponsel dan kecerdasan buatan sebagai contoh utama. Ia menilai ponsel melahirkan budaya yang tidak sejalan dengan nilai Islam, yaitu semakin viral dan banyak penonton, semakin dianggap baik. Manusia terhubung secara algoritmik, bukan dalam totalitas kemanusiaannya, sehingga justru merasa kesepian. “Budaya layar sentuh ini menciptakan ilusi kebersamaan. Kita terkoneksi secara algoritmik dalam ruang virtual yang serba cepat, namun terasing dari totalitas kemanusiaan kita di dunia nyata, sehingga yang lahir justru epidemi kesepian di tengah keramaian,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa AI tidak memiliki kesadaran. Selama kesadaran kemanusiaan terus ditumbuhkan melalui zikir dan ilmu pengetahuan, kata Mujiburrahman, manusia tidak perlu khawatir digantikan AI. “Kecerdasan buatan hanyalah komputasi yang hampa akan ruh. Selama kita merawat kesadaran eksistensial kita melalui integrasi zikir dan ilmu pengetahuan, eksistensi kemanusiaan kita tidak akan pernah bisa direduksi atau digantikan oleh algoritma mana pun,” tutupnya.
Kedua paparan disambut antusias peserta, ditandai banyaknya yang ingin mengajukan pertanyaan.

