
Mahasiswa S2 PAI UIN Antasari Unjuk Gagasan Kritis di Sesi Paralel DIGIDA 2026: Soroti ‘Sludge Content’ hingga Etika Digital
BANJARMASIN — Sesi paralel Seminar Internasional Digital Literacy and Islamic Da’wah (DIGIDA) 2026 yang digelar pada Rabu (7/10/2026) menjadi panggung unjuk gigi bagi para akademisi muda, khususnya mahasiswa Magister Pendidikan Agama Islam (S2 PAI) UIN Antasari Banjarmasin. Bertempat di Aula Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi, para mahasiswa pascasarjana ini mempresentasikan hasil riset tajam terkait tantangan dakwah di era kiwari.

Perhatian utama dalam sesi ini tertuju pada pemaparan riset mahasiswa S2 PAI, Ghina Sofia Mahfuzah, bersama dosen, Najla Amaly. Mereka membedah fenomena sludge content—penyandingan audio ceramah dengan visual yang tidak relevan seperti tayangan game atau ASMR—di platform TikTok dan YouTube Shorts.

Riset ini membuktikan bahwa alih-alih memperkuat dakwah, sludge content justru memecah konsentrasi audiens. Data riset menunjukkan bahwa pemahaman materi agama merosot drastis dari 74,6 persen (pada video selaras) menjadi hanya 40,8 persen pada video sludge. Tak hanya itu, nilai kesakralan dan kekhusyukan pesan dakwah juga tereduksi signifikan.

Selain isu sludge content, ketajaman analisis mahasiswa dan peneliti S2 PAI turut mewarnai panggung paralel lewat pemaparan berbagai artikel ilmiah yang mengkritisi literasi dan etika digital generasi muda, di antaranya:
- Sufisme dan Etika Digital: Kolaborasi riset oleh Ahmad Syaipudin, Fatma Amalia Rahma, dan Ahmad Muhammad yang menyoroti perpaduan pendidikan Islam dan etika digital di kalangan pemuda Muslim.
- Tantangan Etika Gen Z: Kajian filosofis kehidupan digital Muslim muda yang dipresentasikan oleh Hayatun Najah, Ahmad Syaipudin, dan Fathur Rabbany.
- Krisis Literasi Keagamaan: Riset dari Ahmad Muhammad, Eddy Hartono, Jumrani, Fakhrurrazi, dan M. Masruni yang menawarkan gagasan rekonstruksi model dakwah era keemasan Islam untuk melawan kedangkalan literasi agama di media sosial.

Keterlibatan aktif dan kritis dari para mahasiswa S2 PAI dalam forum internasional ini membuktikan komitmen akademisi muda UIN Antasari. Mereka tidak hanya merespons tren media sosial, tetapi juga menawarkan solusi pedagogis agar teknologi dapat memperkuat, bukan malah mendistorsi, nilai-nilai keislaman di tengah masyarakat digital.

