
Urang Kandangan yang Dipuji Antropolog Belanda, Kini Bukunya Dibedah
Banjarmasin — Seorang antropolog Belanda pernah memuji disertasi seorang urang Kandangan karena satu hal, yakni kedalaman datanya. Puluhan tahun kemudian, pujian itu kembali disebut di Aula Pascasarjana UIN Antasari, Kamis (22/10/2026). Yang menyebutnya adalah seorang profesor yang ternyata masih tersambung dengan sang antropolog melalui jalur guru dan murid.
Forum itu adalah Graduate Academic Talk Seri Bedah Buku bertajuk “Membaca Pikiran Alfani Daud: Islam dalam Bingkai Budaya Banjar”. Acara yang dimulai pukul 10.00 WITA ini menghadirkan Direktur Pascasarjana UIN Antasari, Prof. Dr. H. Mujiburrahman, MA, dan Dr. Alfisyah, M.Hum., M.Pd., sebagai narasumber. Diskusi dipandu Fathullah Munadi, MA, Koordinator Pusat Kajian Banjar dan Melayu LP2M UIN Antasari.
Minat terhadap pemikiran Alfani Daud ternyata melampaui perkiraan panitia. Kegiatan yang semula menargetkan 50 peserta itu didatangi 86 orang. Angka itu hampir dua kali lipat dari target awal.
Fathullah membuka diskusi dengan memetakan posisi keilmuan kedua narasumber. Menurutnya, pemikiran Alfani Daud terlalu luas untuk dibaca dari satu disiplin saja. Karena itu, panitia sengaja mempertemukan sosiologi agama dan antropologi agama dalam satu meja.
Mujiburrahman, jelasnya, adalah guru besar sosiologi agama UIN Antasari. Adapun Alfisyah merupakan doktor pendidikan IPS lulusan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung yang menekuni antropologi agama dan mengajar di Program Studi Pendidikan Sosiologi FKIP Universitas Lambung Mangkurat.
“Kita punya dua pintu masuk. Prof Mujib membaca dari sosiologi agama, Bu Alfisyah dari antropologi agama. Keduanya kita perlukan supaya Alfani Daud terbaca utuh,” kata Fathullah.
Mujiburrahman memulai dari tanah kelahiran Alfani Daud, Kandangan. Baginya, cara berpikir seorang ilmuwan tidak bisa dilepaskan dari ruang sosial yang membesarkannya. Kandangan, yang menjadi pusat kawasan Banua Lima, menurutnya menyimpan lapisan sejarah panjang yang ikut membentuk watak warganya.
“Kandangan itu bukan kota kecil biasa. Dari zaman Kerajaan Banjar, masa pergerakan nasional, sampai sesudah revolusi fisik, banyak peristiwa dan tokoh lahir dari sana. Itu yang membentuk jiwa kosmopolitan urang Kandangan, dan itu terlihat pada Pak Alfani,” ujarnya.
Bekal kosmopolitan itu kemudian bertemu dengan tradisi akademik Belanda. Mujiburrahman menuturkan, Alfani Daud pernah berguru kepada J. van Baal, antropolog yang pernah bertugas di Hindia Belanda. Van Baal, katanya, memuji karya Alfani karena kedalaman data yang dihimpun dalam disertasinya.
Tanpa diduga, garis keilmuan itu juga menyentuh Mujiburrahman sendiri. Ia kemudian berguru kepada Karel Steenbrink, yang juga murid Van Baal. Dari Steenbrink pula ia mendengar kenangan tentang Alfani.
“Pak Karel menyebut Pak Alfani itu kawan murid. Mereka sama-sama pernah belajar pada Van Baal. Jadi, secara keilmuan, saya ini seperti cucu murid dari guru yang sama,” kenang Mujiburrahman.
Irisan antara ketekunan lapangan dan disiplin antropologi itulah, menurut Mujiburrahman, yang melahirkan karya monumental Alfani, Islam dan Masyarakat Banjar: Deskripsi dan Analisa Kebudayaan Banjar. Buku Islam dalam Bingkai Budaya Banjar yang dibedah hari itu, dengan pengantar dari Mujiburrahman, menghadirkan sisi lain dari pemikiran yang sama.
Jika Mujiburrahman membaca sosok penulisnya, Alfisyah membedah isi pikirannya. Ia menjelaskan bahwa kepercayaan urang Banjar tidak tumbuh dari satu akar. Kepercayaan itu merupakan irisan antara keyakinan lama yang sudah hidup sebelum Islam datang dan ajaran Islam yang kemudian dianut masyarakat.
Merujuk kerangka Alfani Daud, Alfisyah memetakan tiga lapis sumber kepercayaan. Lapis pertama bersumber dari ajaran Islam. Lapis kedua berkaitan dengan struktur masyarakat Banjar masa awal, termasuk keyakinan terhadap leluhur dan makhluk gaib. Lapis ketiga lahir dari tafsir masyarakat atas alam di sekitarnya, seperti sungai, hutan, dan tempat-tempat yang dianggap berpenghuni.
Ketiga lapis itu, menurutnya, tidak saling meniadakan, melainkan saling menyesuaikan. Tradisi lama tidak dihapus, tetapi diisi dengan doa, shalawat, dan pembacaan ayat. Ia mencontohkan Baayun Mulud, tradisi mengayun anak yang dipadukan dengan peringatan Maulid Nabi.
“Urang Banjar tidak membuang yang lama begitu saja. Yang lama diberi baju baru. Bentuknya mungkin warisan leluhur, tetapi isinya sudah doa dan shalawat,” kata Alfisyah.
Kekuatan Alfani, lanjutnya, terletak pada cara ia memotret kenyataan itu. Alfani lebih dulu menggambarkan apa yang diyakini dan dilakukan masyarakat sebelum menilainya. Pendekatan deskriptif inilah yang membuat karyanya tetap menjadi rujukan bagi peneliti kebudayaan Banjar.
Sesi tanya jawab menunjukkan bahwa tema ini dekat dengan keseharian peserta. Tak kurang dari sepuluh orang mengangkat tangan begitu moderator membuka kesempatan bertanya. Karena waktu terbatas, Fathullah hanya memilih tiga penanya.
Pertanyaan yang muncul beragam. Ada yang menyoal hubungan antara tauhid dan kepercayaan lokal yang masih hidup di tengah masyarakat. Ada pula yang menanyakan kapidaraan, keyakinan bahwa seseorang, terutama anak-anak, bisa jatuh sakit karena ditegur makhluk halus. (MRS)





